Sunday, 22 July 2012

Arti sesungguhnya


Kita ini hanyalah jumlah hari dan waktu. Bila sebagian jumlah itu pergi, pergilah sebagian dari kita ini. Setiap bilah hari yang meninggalkan kita, memunculkan berbagai coretan, kenangan, rahasia, cerita, derita, bahagia dan segala rupa warna dan rasa. Sebagian yang tinggal menunggu giliran untuk melalui peristiwa yang sama. Mungkin berbeda nama hari, bulan dan tahun, tetapi tetap sama pada kondisi dan peran. Ia akan membawa lagi sebagian dari kita pergi meninggalkan kehidupan dunia ini. Sampai pada saat berakhirnya bilangan terakhir, maka ketika itu berakhirlah kehidupan kita di dunia ini.

Meskipun saban waktu dan hari jumlah itu pergi tidak kembali lagi, tetapi ia tetap meninggalkan kesan pada jumlah yang masih ada. Kenangan, peristiwa, pengajaran dan pasokan yang dikutip oleh hari-hari kemarin ditinggalkan untuk hari-hari mendatang. Adakala ia pahit, adakala manis, adakala kita membencinya, adakala kita menangisi kehilangannya dan adakala kita ingin melupakan dan mengharapkan agar jumlah itu tidak pernah ada dalam diari kehidupan kita. Jumlah yang pergi dan datang jua menyimpan berbagai rahasia setiap kita. Bukan semua babak lakonan setiap insan diketahui oleh orang lain. Sebagian besarnya adalah rahasia kehidupan, hanya dia dan Tuhan. Beruntunglah insan yang rahasianya di sisi Yang Maha Esa lebih baik dari apa yang disangka oleh manusia.

Banyak yang seakan merasa segala kezaliman dan kekejamannya ke atas orang lain berakhir dengan berlalunya hari-hari dirinya dan orang lain. Segalanya dilupa. Tapi, efek kesakitan dan luka yang ditinggalkan oleh hari-hari kemarin tidak harus dilupakan oleh yang dizalimi. Hari-hari yang pergi mewarisi luka-luka yang terpalit dalam memori. Si korban tidak lupa. Allah juga tidak lupa, akan hari pembalasannya. Apakah pembalasan itu hadir dalam sisa hari-hari duniawi yang masih tertinggal atau pada Hari Pembalasan yang sangat agung. Atau, pembalasan itu akan tiba dalam dua alam; dunia yang fana ini dan akhirat yang kekal abadi. Atau, Allah mengampunkannya pada ilmuNYA yang DIA Maha Tahu.

Hari yang pergi, jika ia kejelekan dan kotor hitam, kita diberi kesempatan untuk mengindahkan dan memutihkannya pada hari-hari yang masih tersisa. Adakala kejelekan itu tidak bisa diindahkan kembali melainkan melalui proses yang panjang. Adakala kotoran dan kehitaman itu tidak bisa dicuci dan diputihkan dengan mudah. Mengambil waktu yang lama dan membutuhkan bahan pembersih yang banyak.
Ada kalanya pula, kita telah benar-benar membersihkannya namun oleh karena warna hitam semalam terlalu kuat mempengaruhi pemikiran sebagian orang, lantas mereka tetap membantah warna putih, atau kain yang sudah kita bersih pada hari-hari yang tersisa. Mungkin mereka tahu hakikatnya telah suci, tapi masih ingin menafi pada sifat rakus insani. Atau, memang rupa jelek atau warna hitam kemarin telah benar-benar membutakan mata dari melihat warna murni hari ini.
Namun, kita harus yakin tanpa keraguan bahwa Allah benar-benar mengetahui segalanya. Dia Maha Mengetahui antara yang hitam dan putih, antara yang bersih dan kotor. Dia Mengetahui siapa hambaNYA yang bertobat, siapa pula hambaNYA yang keras jantung hati. Penilaian Tuhan selalu adil tanpa kekurangan. Hari-hari yang sisa memberi kesempatan insan memperbaiki diri. Bahkan dengan keikhlasan kepada Tuhan, kebaikan hari ini dapat menghapus keburukan hari kemarin.

Sebagian manusia pula menyangka bahwa kemanisan hari-hari yang pergi akan terus diwariskan tanpa siapa yang dapat menghalangi. Tiba-tiba dia sadar, bahwa hari-hari yang tersisa tidak semestinya melacak warna-warna indah, ceria dan bahagia yang telah pergi meninggalkannya. Duka mengambil tempat suka, derita merampas hari-hari bahagia. Sekali lagi diingatkan agar insan selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan dan memohonkan dipertahankan nikmat karunia. Disuruh kita membunuh rasa congkak dan takabur atas karunia nikmat, karena segalanya mungkin saja berubah. Senggara itu bisa menjelma dalam berbagai rupa. Meskipun sang raja masih hidup di istana mewahnya, namun Senggara bisa masuk dan mencabut gembira dan bahagia sekalipun dia masih berada pada singgasana empuknya. Kepada Allah juga pengharapan dalam setiap detik kehidupan. Dia Yang Memberikan segala karunia sebagai tes untuk sebagian hamba-hambaNYA.

Hari-hari yang pergi dengan penuh dengan tangisan dan kesedihan tidak selalu mewarisi airmata derita dan wajah duka untuk hari-hari yang menjelma setelahnya. Tangisan dari sepasang mata mungkin terus mengalir pada hari yang tersisa, tetapi karena gembira dan bahagia. Bukan lagi karena sengsara. Hari-hari yang datang, tidak harus mencontoh lagi hari kemarin. Bahkan derita kemarin, memuncakkan kenikmatan saat kebahgiaan menjelma pada hari ini. Siapakah penentu segalanya? Allah. Allah. Allah tiada tuhan melainkan Dia Yang Maha Menguasai segalanya. Maka jangan heran wahai teman, jika Anda melihat yang miskin berubah menjadi kaya, yang sengsara bertukar bahagia. Juga jangan heran, jika terjadi hal yang sebaliknya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, akan dibukakan baginya berbagai keajaiban yang tidak disangka.

Akhirnya kita akui bahwa, kita hanya jumlah hari. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan detik dan waktu. Kita semua akan sampai pada saat jumlah detik yang terakhir. Di kala itu tamatlah segala drama dan babak-babaknya yang kita lalui di atas pentas dunia yang fana. Menunggu saat perhitungan Tuhan atas segala cerita yang kita lakonkan. Segala lenggang lenggok karakter dan gaya kita, telah berakhir dengan berakhirnya bilah terakhir yang pergi dan tiada yang datang lagi. Tidak ada subsidi waktu dan hari yang bisa diberikan oleh siapa pun. Segalanya kenangan untuk semua drama kehidupan. Tidak ada lagi teman, tiada lagi harta dan tiada lagi senyum tawa. Derita dan derita. Atau pun, tiada lagi derita, tidak lagi sengsara. Bahagia dan bahagia. Di kala itu kita akan hidup dalam jumlah hari yang tiada kesudahan, dan waktu yang tidak tersisa. Ya Allah! Ampunilah kami ini.

No comments:

Post a Comment